Masa Kerajaan Majapahit dan Pengembaraan
Pada zaman dahulu, terdapat seorang putra dari Kerajaan Majapahit yang bernama Raden Udara, putra dari Patih Udara. Setelah mengalami peristiwa banjir besar, beliau kemudian memutuskan untuk menetap di sebuah padepokan bernama Paluhamba. Padepokan tersebut dipimpin oleh Raden Damar Wulan, seorang tokoh yang dikenal gagah dan sakti pada masa itu.
Sudah menjadi kebiasaan atau tradisi bagi putra kerajaan untuk melakukan perjalanan atau mengembara. Dalam perjalanannya, Raden Udara dikawal secara khusus oleh dua orang punakawan yang bernama Sandirono dan Sandirene. Raden Udara memiliki ketertarikan yang besar untuk menjelajah dan mencari tempat-tempat baru di luar lingkungan keraton.
Perjalanan Menuju Hutan Belantara
Pada suatu ketika, Raden Udara mengembara menuju sebuah kawasan yang masih berada di bawah kekuasaan wilayah Kerajaan Majapahit. Saat itu, tempat tersebut masih berupa hutan belantara yang sangat luas dan belum banyak dihuni oleh manusia. Di tengah perjalanan, rombongan tersebut dihadang oleh cuaca buruk berupa hujan barat yang sangat deras disertai petir dan kilat.
"Raden, hujan semakin lama semakin deras. Air yang turun dari atas semakin banyak dan sepertinya berasal dari daerah yang lebih tinggi. Sebaiknya kita mencari tempat untuk berteduh."
— Laporan percakapan Sandirono dan Sandirene kepada Raden Damar WulanMenanggapi situasi tersebut, Raden Damar Wulan kemudian mengarahkan rombongan, "Coba lihat, ada pohon besar di sana. Kita bisa berteduh di bawahnya dan sekaligus menggunakannya untuk bermalam." Tempat berteduh inilah yang kelak menjadi cikal bakal penamaan dan pemukiman di wilayah ini.